Berpikir Berbeda – Kreatif dan Inovatif

Advertisements

SPW – Menjadi original tidak perlu menjadi yang pertama, tetapi menjadi yang berbeda dan lebih baik. Kali ini saya akan membahas buku yang berjudul Originals karya Adam Grant. Buku ini membahas bagaimana seseorang bisa menjadi dirinya sendiri dan mampu mengubah dunia.

Kemajuan di dunia berasal dari segelintir orang yang berani untuk berpikir berbeda. Adam menyebut mereka sebagai the originals. Dia menjelaskan bagaimana setiap dari kita bisa berpikir secara original dan meningkatkan kemampuan dalam berinovasi untuk menghasilkan dampak yang lebih besar. Di bukunya, Adam banyak menuliskan berbagai kisah orang kreatif dalam menyelesaikan sebuah masalah yang tampaknya mustahil untuk dipecahkan.

Tiga Hal Penting dari Buku Berjudul Originals karya Adam Grant:

Pertama, Kuantitas atau Kualitas

Orang yang memiliki ide yang original bukanlah orang yang spesial. Mereka sama seperti kamu dan saya. Mereka pun tidak lahir dengan bakat luar biasa. Namun ada karakter yang membuat mereka berbeda.

Contohnya, pilih mana? Kuantitas atau kualitas? Biasanya orang akan bilang kualitas lebih baik daripada kuantitas. Namun dibanyak penemuan ide brilian, sangat jarang kisah penemuan Isaac Newton yang menemukan konsep gravitasi dari apel yang jatuh dari pohon dan mengenai kepalanya. Itulah sebabnya, Adam menekankan kuantitas dan kualitas sama pentingnya.

Hal ini juga didukung oleh riset dari psikolog Dean Simonton yang menekankan bahwa orang yang sangat kreatif bukan tipe orang yang punya ide lebih baik. Namun, mereka menghasilkan ide lebih banyak daripada mayoritas pada umumnya. Jumlah ide yang banyak menghasilkan probabilitas lebih tinggi untuk menghasilkan beberapa karya yang brilian.

Adam memberikan contoh kisah Pablo Picasso. Picasso merupakan seniman terkenal atas beberapa karyanya yang mendunia. Namun, tidak banyak yang tahu kalau hasil karya Picasso termasuk 2.800 keramik, 1.800 lukisan, 1.200 pahatan, dan lebih dari 12.000 gambar. Jumlah kuantitas yang sangat banyak ini menghasilkan beberapa karya Picasso yang mendunia. Menariknya, para jenius tidak tahu karya mana yang bisa mendunia.

Jika kita fokus pada sedikit ide yang berkualitas, maka kemungkinan gagal kita akan semakin besar. Lebih baik kita menghasilkan sebanyak mungkin karya yang inovatif. Dampak hal tersebut akan meningkatkan probabilitas kesuksesanmu. Namun perlu ditekankan kalau setiap karya yang dihasilkan tidak boleh sembarangan jadi. Harus karya yang sudah dibuat sebaik mungkin!

Kedua, Mewujudkan Ide Kreatif Harus Bersama

Salah satu tantangan utama dalam kreativitas bukan berasal dari kurangnya ide segar, akan tetapi bagaimana kita bisa memilih ide yang tepat dan mendapatkan dukungan untuk membuatnya menjadi kenyataan. Oleh karena itu kamu tidak bisa sendiri, melainkan harus berkoalisi.

Adam menjelaskan ada dua tipe koalisi yang bisa kamu lakukan:

1. Bekerja dengan orang yang memiliki taktik yang sama, namun tidak harus dengan orang yang sepaham. Ini adalah seni dalam menyampaikan sebuah ide yaitu memasukkannya ke dalam sebuah pembicaraan untuk menghindari horizontal hostility. Ini adalah bentuk prasangka yang biasanya muncul di dalam sebuah grup. Walaupun mereka memiliki pemahaman yang sama, namun mereka juga memiliki tingkat permusuhan yang cukup tinggi.

Adam memberikan contoh Meredith Perry saat memperkenalkan ide perangkat pengisian secara wireless. Meredith mempresentasikan idenya kepada para profesor fisika dan engineers, hanya sedikit yang setuju dengan idenya. Meredith pun lalu mencari pendekatan yang berbeda. Dia menyampaikan kalau ingin membuat sebuah transduser atau alat yang mampu mengubah suatu bentuk energi ke energi lainnya. Meredith tahu, daripada berbicara terkait alat yang mengirimkan energi secara wireless.

Kali ini idenya langsung mendapat dukungan yang besar, karena terdengar lebih membumi daripada teknologi wireless pada masa itu. Akhirnya, Meredith mampu mendirikan perusahaanya sendiri bernama uBeam yang menghasilkan solusi pengisian wireless secara inovatif.

Advertisements

2. Bekerjasama dengan musuh lebih baik daripada dengan orang yang masih ragu-ragu. Tentu saja benar jika teman adalah mitra terbaik dan musuh adalah mitra terburuk. Namun, ketika membangun koalisi, lebih baik kamu berusaha untuk memenangkan dukungan musuhmu daripada orang yang ragu-ragu atau disebut oleh Adam sebagai frenemies. Orang dengan tipe ini masih belum memutuskan antara mendukung atau menolakmu.

Adam memberikan contoh kisah Lucy Stone, wanita Amerika pertama yang memilih untuk mempertahankan nama belakangnya setelah menikah. Dia juga merupakan wanita Massachusetts pertama yang mengenyam pendidikan tinggi.

Sejak tahun 1853, Lucy bekerja selama 15 tahun dengan aktivis wanita terkenal seperti Susan B. Anthony dan Elizabeth Cady Stanton. Namun, pada tahun 1869, Lucy berpisah dengan Susan dan Elizabeth. Perpisahan ini lalu menghasilkan hubungan yang buruk, mereka menjadi rival asosiasi dan menerbitkan koran yang berseberangan.

Ternyata sumber perpecahan mereka adalah hak pilih warga Afrika-Amerika. Susan dan Elizabeth merasa kalau mendahulukan hak pilih pria berkulit hitam daripada wanita berkulit putih tidak sesuai dengan apa yang mereka perjuangkan. Selama ini Lucy, Susan, dan Elizabeth selalu berusaha untuk mendorong kesetaraan antara pria dan wanita. Lebih jauh lagi, Susan dan Elizabeth merasa dukungan Lucy terhadap pria berkulit hitam merupakan bentuk pengkhianatan bagi perjuangan kesetaraan wanita. Kejadian ini membuat mereka bertiga terus berselisih hingga akhir hayat.

Berdasarkan kisah di atas, Adam menekankan kita harus tahu siapa mitra kita. Sebab mereka tidak menunjukkan konsistensi seperti yang dilakukan oleh musuh kita. Jika kita tidak hati-hati, mitra yang sangat dekat dengan kita, bisa berubah menjadi musuh yang kuat di masa depan.

Ketiga, Memberi Jeda Menghasilkan Kreativitas

Pidato Martin Luther King Jr yang terkenal berjudul “I Have a Dream” pada tahun 1963, ditulis semalam sebelumnya. Walau dia sudah mulai mengumpulkan materi pidatonya berbulan-bulan sebelumnya. Namun menariknya, baris kalimat yang sangat mengesankan adalah terkait mimpi.

Martin bisa melakukan semua hal tersebut, karena dia punya segudang materi yang banyak tanpa dengan cepat berkomitmen pada salah satu angle. Kuncinya adalah kita memberikan jeda dalam mengerjakan sebuah ide. Ketika sebuah pekerjaan belum selesai, maka hal tersebut masih aktif di pikiran kita. Biarkan ide itu ada di sana sambil kamu melakukan eksplorasi alternatif lain.

Melalui hal ini, kamu tidak akan terlalu cepat memutuskan pada ide tertentu, namun memberikan ruang kepada ide alternatif lain untuk muncul. Adam menjelaskan apa yang dilakukan oleh Martin sebagai contoh dari Zeigarnik Effect yang dicetuskan oleh psikolog Rusia dengan nama yang sama. Zeigarnik Effect adalah kecenderungan mengingat suatu hal yang belum selesai dibandingkan dengan hal yang sudah selesai dikerjakan.

Para Originals dunia menggunakan strategi menjeda untuk menghasilkan karya yang hebat. Contohnya pada Leonardo Da Vinci. Kita tidak banyak tahu kalau Leonardo Da Vinci melakukan teknik menjeda dalam mengerjakan proyek lukisan Mona Lisa pada tahun 1503. Leonardo tidak menyelesaikan Mona Lisa hingga 16 tahun kemudian. Beberapa orang menganggap hal ini sebagai keberuntungan. Namun sejarahwan William Pannapacker berpikir sebaliknya, dalam jangka waktu 16 tahun, Leonardo bereksperimen pada ilusi optik dan teknik baru dalam melukis. Inilah yang membuat karya Mona Lisa lahir dengan ide dan perspektif yang berbeda.

Kesimpulan

Orang yang berhasil mewujudkan mimpi atau ide besar, bukan hanya orang yang punya ide brilian, tapi mampu mendapatkan dukungan dari orang lain untuk mewujudkan idenya.


Semoga bermanfaat. Sebagai bentuk dukunganmu terhadap blog pribadi ini, caranya mudah sekali. Hanya tinggalkan komentarmu dan sebarkan tulisan ini kepada siapapun. Terima kasih banyak.

Advertisements
Lulusan Psikologi. Instruktur yang berfokus pada materi ajar terkait Improvement & People Development. Penulis resmi di Personal Blog Singgih Pandu Wicaksono. Hobi membaca, menulis, dan berolahraga.

Related Posts

The Psychology of Selling

Advertisements SPW – Menjadi jago jualan perlu memiliki mindset yang tepat dulu sebelum berjualan. Kali ini saya akan membahas buku berjudul The Psychology of Selling karya Brian…

Rencana Singkat Disisa Hidupmu

Advertisements SPW – Kadang dalam hidup kita tidak selalu mendapatkan pilihan yang bagus, yang jauh lebih penting adalah melakukan hal terbaik dari pilihan apapun yang didapatkan. Kali…

Cara Menghentikan Kebohongan atau Kecurangan

Advertisements SPW – Mayoritas orang akan curang apabila situasi dan kondisinya mendukung. Kali ini saya akan bahas buku berjudul The Honest Truth About Dishonesty karya Dan Ariely…

Menjadi Negosiator Ulung dengan Cara Membujuk Orang Lain Melalui Teknik Mendengarkan

Advertisements SPW – Ketika seseorang sedang cerita mungkin dia tidak butuh solusi, akan tetapi hanya ingin didengar keluh kesahnya. Kali ini saya akan membahas buku berjudul Just…

Transformasi Bisnis yang Sukses

Advertisements SPW – Perusahaan yang mampu bertransformasi menjadi perusahaan hebat diibaratkan seekor landak, sedangkan perusahaan yang gagal bertransformasi diibaratkan seekor rubah. Kali ini saya akan membahas buku…

Diskusi yang Memunculkan Solusi

Advertisements SPW – Diskusi awalnya tenang bisa berubah menjadi saling berteriak, apabila kita tidak berusaha mendengarkan orang lain. Kali ini saya akan membahas buku berjudul Crucial Conversations…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *