Cara Menemukan Karyawan yang Tepat untuk Perusahaan

Advertisements

SPW – Apakah kamu pernah mendengar kata talent di perusahaan? Bukan sekedar istilah yang meluncur begitu saja. Talent sebenarnya adalah elemen rahasia di balik panggung sukses sebuah perusahaan. Kata Talent biasanya merujuk pada karyawan atau individu yang memiliki keterampilan pengetahuan dan kemampuan khusus yang dapat memberikan nilai tambah kepada perusahaan.

Istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan individu yang memiliki potensi dan kontribusi yang luar biasa terhadap kesuksesan organisasi. Bahkan di era sekarang ada istilah War for Talent artinya perusahaan berlomba-lomba untuk mencari kandidat karyawan terbaik untuk bisa bergabung dengan mereka namun sayangnya pencarian seorang karyawan yang berkualitas masih menitik beratkan pada intuisi, bukan data.

Banyak bias yang kita sadari maupun tidak, saat merekrut karyawan tidak heran sudah bergabung beberapa bulan ternyata orang yang awalnya kita anggap merupakan talent yang berkualitas tidak cocok dengan budaya perusahaan atau tidak cocok bekerja dengan si atasan.

Kali ini saya membahas buku yang berjudul The Talent Delusion karya Thomas Chamoro Premuzic. Buku ini membahas mitos talent dan bagaimana kita bisa menemukan merawat dan mengembangkan seorang talent dalam sebuah perusahaan.

Semua organisasi pasti punya tantangan tersendiri dan kebanyakan dari mereka punya tantangan dalam hal manusia. Misalnya, bagaimana mengelola karyawan dan memotivasi mereka. Siapa karyawan yang layak untuk dipromosikan? Siapa karyawan yang pantas untuk dipecat? Dan sebagainya.

Jika kamu merupakan pemilik perusahaan atau seorang pemimpin, pastinya kamu ingin mencari karyawan yang berkualitas, tapi ini tidak mudah. Namun yang jauh lebih penting, apakah kamu tahu apa yang kamu cari?

Jika kamu sudah tahu. Pertanyaan berikutnya adalah apakah kamu tahu bagaimana cara menilai secara objektif? Biasanya penentuan terbesar seorang karyawan diterima atau tidak, saat fase interview. Seorang kandidat akan dinilai apakah bisa kerja, cocok dengan budaya perusahaan, dan yang paling penting cocok adalah bisa bekerja sama dengan atasannya.

Tiga Hal Penting dari Buku Berjudul The Talent Delusion Karya Thomas Chamoro Premuzic Sebagai Berikut:

Pertama, Apa itu Talent?

Bagaimana cara mendefinisikan seorang talent? Di Human Capital, mereka suka mengatakan karyawan berkualitas sebagai talent. Di salah satu fungsi Human Capital perusahaan ada bagian yang namanya Talent Acquisition yang tugasnya mencari kandidat sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Tidak semua karyawan di perusahaan itu punya kinerja yang tinggi. Mungkin kita bisa melihat karyawan dalam kacamata hukum pareto. 20% karyawan berprestasi bertanggungjawab pada 80% hasil atau produktivitas. 30% sisanya berkontribusi pada 10% hasil dan sisa 50% berkontribusi hanya 10%.

Thomas C. P. The Talent Delusion

Namun perlu dipahami orang yang jago di satu bidang, belum tentu jago di bidang lain. Misalnya seorang pelari kelas dunia, Usain Bolt mungkin saja bukan akuntan yang hebat. Sama halnya dengan mantan kanserlir Jerman, Angela Markel bukan Stand Up Comedian yang hebat, meski sudah berlatih 10.000 jam.

Jadi tugas kita sebagai pemimpin adalah mencari tahu siapa karyawan tersebut, sebelum mereka dibajak perusahaan lain atau memutuskan untuk mengundurkan diri.

Ada tiga komponen dari sebuah Talent yaitu, likeability, ability, dan willingness.

  1. Likeability merupakan ungkapan umum yang mencakup kemampuan seorang dalam berkolaborasi dan mampu bekerja di luar dari apa apa yang diharapkan.
  2. Ability adalah keahlian seseorang yang berhubungan dengan bidang pekerjaannya, pengalaman kerja, dan kemampuan memecahkan masalah.
  3. Willingness berkaitan dengan ambisi pribadi dan motivasi bekerja.

Tiga poin ini bisa jadi penilaian manajemen dalam menentukan apakah seseorang tergolong sebagai high talent atau tidak.

Kedua, Orang yang Tepat Di Posisi Tepat.

Kenapa sepertinya susah banget mencari karyawan yang tepat? Ada beberapa alasan penyebabnya;

1. Pekerjaan yang Tidak Jelas.

Ketika kamu ingin merekrut seorang karyawan, apakah kamu tahu tipe karyawan seperti apa yang dicari? Apa keahlian yang dibutuhkan? Mayoritas mungkin tidak tahu apa yang dia mau, bahkan ketika kamu tahu, namun kamu hanya tahu luarnya saja.

Misalnya kamu hanya butuh tenaga penjual, akuntan, dan sebagainya. Namun sayangnya deskripsi pekerjaan yang terlalu umum, justru membuat kamu gagal menemukan karyawan yang kamu mau.

2. Pengukuran yang Tidak Jelas dalam Rekrutmen

Biasanya ada beberapa tahapan dalam proses rekrutmen seperti; psikotes, tes keahlian, wawancara, dan sebagainya. Kadang dalam posisi senior Manager ke atas, biasanya sudah tidak ada lagi psikotes atau tes keahlian. Tes yang digunakan hanyalah serangkaian wawancara. Mulai dari atasan langsung, Direktur Utama, Leader tim dari regional ataupun Global.

Meskipun proses yang begitu panjang, proses tersebut belum tentu bisa diukur. Biasanya penentuan siapa kandidat dipilih justru berdasarkan chemistry atau kecocokan antara si kandidat dan pengambil keputusan.

Lalu setahun kemudian setelah kandidat itu direkrut atasan barunya merasa kalau orang ini tidak cocok dengan budaya perusahaan dan memecat orang itu. Siklus pencarian karyawan kembali dimulai tanpa adanya perbaikan dari proses rekrutmen karyawan. Ini yang umum terjadi di banyak perusahaan bahkan di perusahaan besar sekalipun.

Ketiga, Persaingan untuk Mencari Kandidat Terbaik.

Kenapa sekarang terjadi War for Talent?

1. Epidemic of Disengagement

Sederhananya mayoritas orang di berbagai belahan dunia tidak menyukai pekerjaan mereka atau tidak bersemangat dalam bekerja. Contohnya, apa yang terjadi setiap hari senin? Apakah kamu tidak sabar untuk bekerja atau malah mengeluh karena hari libur telah usai?

Mungkin kisaran 70% orang mengaku kalau mereka tidak puas dengan pekerjaan mereka. Tentu saja angka ini pro dan kontra. Tapi yang jelas jika kamu tanya ke berapa orang terkait pekerjaan mereka, mayoritas mungkin memberikan penilaian yang rendah.

2. Passive Job Seeker

Sekitar 75% karyawan yang sekarang sudah punya pekerjaan masuk dalam kategori ini. Artinya mereka tidak secara aktif mencari pekerjaan, namun mereka berharap ada tawaran menarik jika ada yang mendekat. Mungkin sesekali dilirik untuk dieksplore lebih jauh.

Ketiga, Naiknya Minat Seseorang Menjadi Wirausaha.

Ekonomi yang semakin baik tentunya memberikan sesorang banyak pilihan. Mungkin saja dia tidak lagi ingin bekerja akan tetapi ingin membuka usaha sendiri. Di zaman sekarang, saya rasa banyak anak muda punya lebih dari satu pekerjaan.

Misalnya dia pegawai kantoran tapi punya bisnis sampingan. Nah, ketika bisnisnya sudah mulai menghasilkan, mungkin saja mereka berhenti bekerja di perusahaanya dan fokus menjalankan bisnis. Namun di sisi lain tidak mudah untuk jadi pengusaha.

Probabilitas sebuah bisnis bisa bertahan lebih dari 5 tahun itu juga kecil, apalagi 10 tahun. Jika ditanya apa alasan kamu bergabung ke dalam sebuah perusahaan? Mungkin ada yang menjawab karena gaji, tunjangan, fasilitas, dan sebagainya.

Bagaimana bila alasanmu bergabung karena ingin jadi bagian dari sesuatu yang besar? Alasanmu bergabung karena ingin membuat sebuah dampak. Ini perspektif yang menarik ketika melihat motivasi seseorang dalam bekerja. Mungkin ketika mereka merasa produktif, berguna, dan tahu yang dilakukan bermanfaat, sehingga berdampak pada kemajuan perusahaan.

Kesimpulan

Tidak semua karyawan di perusahaan itu punya kinerja yang tinggi. Mungkin kita bisa melihat karyawan dalam kacamata hukum pareto. 20% karyawan berprestasi bertanggungjawab pada 80% hasil atau produktivitas. 30% sisanya berkontribusi pada 10% hasil dan sisa 50% berkontribusi hanya 10%.


Semoga bermanfaat. Sebagai bentuk dukunganmu terhadap blog pribadi ini, caranya mudah sekali. Hanya tinggalkan komentarmu dan sebarkan tulisan ini kepada siapapun. Terima kasih banyak.

Advertisements
Lulusan Psikologi. Instruktur materi ajar terkait Improvement & People Development. Penulis resmi Personal Blog Singgih Pandu Wicaksono. Hobi membaca, menulis, dan berolahraga. 14 tahun berpengalaman di bidang Human Capital dan saat ini berposisi sebagai Head of Human Capital di Perusahaan Alat Berat Nasional yang bergerak di Mining (Pertambangan) dan Konstruksi (Construction).

Related Posts

Cara Membangun Kepercayaan

Advertisements SPW – Di hubungan yang penuh rasa percaya, kamu bisa bicara hal yang salah, tetapi orang lain tetap memahami maksud dari ucapanmu. Namun ketika kepercayaan rendah,…

Menggali Kreativitas Diri

Advertisements SPW – Tidak pernah terlambat untuk jadi orang yang kreatif. Kamu perlu belajar untuk berdamai dengan rasa takut, ekspektasi orang lain, dan berikan kebebasan pada dirimu…

Menjadi Pemula, Menciptakan Keberhasilan

Advertisements SPW – Di pikiran pemula ada banyak kemungkinan, sedangkan di pikiran ahli hanya ada sedikit. Kali ini saya akan membahas buku berjudul Zen Mind, Beginner’s Mind…

Jadilah Orang yang Tahu Kapan Berhenti atau Berlanjut

Advertisements SPW – Orang sukses tidak pernah takut untuk berhenti ketika tidak ada kemajuan. Di setiap proyek apapun, entah itu hobi, pekerjaan, atau membangun perusahaan baru, awalnya…

Membentuk Cara Pikir Orang Sukses

Advertisements SPW – Berpikir itu hal yang sulit, sehingga tidak banyak yang melakukannya. Kali ini saya membahas buku berjudul How Successfull People Think karya John C Maxwell…

Sikap Pemimpin Hebat

Advertisements SPW – Dengan bekerja bersama, maka kita akan mampu menghasilkan banyak hal. Melalui empati, pemimpin mampu memprioritaskan kepentingan timnya di atas kepentingan pribadi. Hasilnya, loyalitas dan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *