Dampak Perubahan Era Generasi Milenial

Dampak Perubahan Era Generasi Milenial

Read Time:8 Minute, 3 Second

SPW – Perubahan era berdampak pada cara kerja dan bagaimana para pekerja menyelesaikan pekerjaannya. Ada hal menarik dari buku berjudul “Millennials Kill Everything” karya Yuswohady. Beliau menjelaskan dengan gamblang bagaimana kejamnya generasi milenial ‘membantai’ produk, layanan, dan industri. Dalam buku tersebut, beliau menuliskan 50 hal yang dibunuh oleh milenial. Menariknya, empat teratas berbicara tentang dunia kerja yang meliputi waktu kerja, tempat kerja, long term employment, dan pakaian kerja formal.

1. Waktu Kerja

Terkait dengan waktu kerja, Yuswohady menjelaskan bahwa bekerja di kantor atau pabrik dari pukul 09.00-17.00 dan bekerja seminggu 40 jam adalah warisan pola kerja abad ke 19 dan ke 20. Oleh karena itu, milenial yang hidup di tengah kemajuan teknologi internet dan mobile tak mau lagi tunduk dengan pola itu.

Masih dari buku tersebut, sebuah survei menyatakan bahwa 77% milenial mengatakan memiliki jam kerja yang fleksibel. Tidak berada di kantor 9 to 5 akan membuat mereka lebih produktif. Dengan pandangan seperti itu, kini 3,8 juta angkatan kerja milenial telah mempertimbangkan rumah sebagai kantor mereka. Jika sekitar 75% dari angkatan kerja di seluruh dunia diisi oleh milenial pada tahun 2025, prediksi the death of 9 to 5 akan terjadi pada tahun 2030.

Gaya hidup working from home (WFH) kini sedang melanda angkatan kerja di seluruh dunia dan ternyata trennya makin menguat dari waktu ke waktu. Dalam bekerja, rupanya milenial lebih memilih jam kerja yang fleksibel ketimbang uang. Sekitar 40% milenial bersedia digaji lebih rendah asal memiliki waktu kerja yang fleksibel. Mereka juga mulai berpandangan bahwa bekerja sesuai dengan jadwal mereka dapat menghasilkan output yang lebih tinggi.

Survei dari PwC juga mengindikasikan bahwa milenial memprioritaskan fleksibilitas waktu kerja dan worklife balance atau keseimbangan antara bekerja mengejar karier dan mengurusi keluarga. Oleh karena itu, WFH menjadi solusi terbaik untuk mencapai kesimbangan itu, terutama di kalangan emak-emak milenial.

Sebagai generasi yang paling knowledgeable dan rasional, milenial juga melihat bahwa bekerja di kantor 9 to 5 belum terhitung dengan kemacetan jalanan di ibu kota. Artinya, menjadi tidak efisien serta boros waktu dan uang. Sementara dari sisi perusahaan, WFH juga menguntungkan karena begitu banyak overhead cost yang bisa dipangkas, terutama biaya sewa, operasional, dan perawatan kantor yang sangat mahal.

2. Tempat Kerja

Jika kita berkaca pada kondisi pekerja di Jakarta atau kota-kota besar lainnya di Indonesia, kita bisa melihat dan merasakan bagaimana beratnya hidup di sana. Untuk sampai ke kantor jam 8 pagi, seorang pekerja harus berangkat lepas subuh agar tidak terlambat. Jika dihitung, bisa jadi pulang pergi kantor dan rumah menghabiskan waktu 4-6 jam perjalanan.

Sebuah kondisi yang sepertinya kurang manusiawi dan juga tidak produktif. Inilah yang menjadikan para milenial menolaknya. Milenial seperti yang pernah dibahas sebelumnya di artikel lainnya, menuntut fleksibiltas dalam bekerja. Bisa bekerja di mana pun dan kapan pun yang penting tujuan dari pekerjaan tersebut tercapai. Oleh karenanya, muncullah istilah remote worker, flexible worker, flexi job, sampai istilah freelancer.

Sebuah survei dari Deloitte menemukan bahwa 92% millennials worker say flexibility is a top priority. Lembaga ini memperkirakan bahwa saat ini remote worker sudah mencapai 39% dari total pekerja penuh waktu, dimana 15% dari angka tersebut bekerja di rumah (home full timer). Angka ini pastinya akan terus meningkat seiring dengan banyaknya milenial yang masuk angkatan kerja. Lebih lanjut lagi, sudah saatnya bagi perusahaan kamu untuk memulai mempertimbangkan flexi time (flexible working schedule) atau menginisiasi konsep kantor di pinggiran kota (satellite office) sehingga milenial tidak perlu berkantor di pusat-pusat kota dan mereka bisa menggunakan waktu secara efektif dan efisien.

Ketika digital sudah menjadi gaya hidup para milenial, maka seharusnya pekerjaan bisa dilakukan di mana pun, tidak harus di kantor. Milenial bisa bekerja sambil travelling, menikmati momen indah kehidupan sembari tetap produktif bekerja sehingga lahir istilah digital nomad lifestyle. Kamu dan tim dapat menggunakan berbagai digital platform yang tersebar di berbagai tempat dan fasilitas umum seperti stasiun, bandara, cafe, hotel, dan lokasi lainnya. Asalkan fasilitas wifi tersedia sehingga pekerjaan bisa tetap diselesaikan. Para programmer, game developer, atau content creator justru bisa jadi lebih produktif ketika melakukan pekerjaan-pekerjaan mereka di tempat seperti itu ketimbang di ruang kantor yang penuh sekat dan membosankan.

Ketika waktu kerja bergeser ke arah fleksibilitas, jenis dan tipe pekerjaaan juga menjadi berubah. Kalangan yang ditemui juga beraneka ragam. Pekerjaan menjadi semakin mobile, tidak selalu fisik hadir di kantor, terkadang coffee shop atau warung makan menjadi tempat kerja.

Bagi milenial, bekerja tidak boleh terasa membosankan seperti dulu. Jikalau harus bekerja di kantor, kamu harus memastikan kantor memiliki ruang kerja serta suasana kerja yang fun dan sarat akan leasure (waktu luang). Bisa mendengarkan musik, sambil makan atau ngopi dan lain sebagainya. Tempat kerja harus menjadi tempat yang menyenangkan untuk bekerja dan beraktualisasi diri. Mereka tidak hanya butuh working environment, tetapi juga playing environment bahkan living environment di kantor mereka.

Apakah tempat itu justru mengganggu konsentrasi mereka? Milenial itu berbeda, mereka terbiasa bekerja dengan multitasking. Walau multitasking tidak baik dikerjakan dalam waktu lama serta pekerjaan yang membutuhkan kefokusan.

3. Long Term Employment

Ketika perusahaan merekrut milenial, jangan lagi berharap mereka bekerja lebih dari dua tahun apalagi loyal hingga 5-10 tahun ke depan. Hal ini karena dalam satu hingga dua tahun ke depan, hampir bisa dipastikan mereka akan mengajukan resign.

Loyalitas yang rendah sudah diteliti oleh Gallup, di mana studi mereka menemukan bahwa 21% milenial berpindah kerja dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun. Jumlah ini 3 kali lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka para milenial kurang tertarik dengan long term employment, they kill long term employment. Sebagai generasi yang menyukai tantangan baru, seorang risk taker, milenial selalu terbuka dengan setiap peluang dan karier baru. Mereka rata-rata merencanakan bertahan di tempat kerja hanya selama 12 bulan ke depan, penyebabnya karena dua hal, yaitu passion dan pengalaman baru.

Oleh karena itu, seorang pemimpin harus mampu memahami karakteristik milenial dan pandai menyiasatinya. Jika generasi sebelumnya bekerja untuk uang, berbeda dengan milenial. Mereka mencari aktualiasi diri. Kami tidak bisa melawannya, tetapi justru harus mengelolanya sebaik mungkin dengan memahami perilaku mereka di tempat kerja.

Memang dalam teori Abraham Maslow disebutkan bahwa aktualiasi diri adalah puncak kebutuhan mendasar manusia. Akan tetapi, bagi milenial sepertinya tidak ada hirarki kebutuhan. Semuanya adalah kebutuhan dasar yang harus terpenuhi pada saat mereka bekerja.

Apa yang seharusnya perusahaan lakukan?

Berbenah tentunya, menyediakan lingkungan kerja yang mendukung, semisal memberikan pekerjaan dengan target yang menantang atau berganti/bertukar peran atau tugas dengan teman kerjanya dalam kurun periode kerja tertentu. Dengan demikian, mereka tidak berpikir untuk mencari tantangan baru di perusahaan lain karena di perusahaan tempat mereka bekerja juga penuh tantangan untuk mereka taklukan. Oleh karena itu, libatkan mereka dalam berbagai project, izinkan mereka untuk berinteraksi dengan berbagai partner, berikan coaching class, dan instant feedback, serta small celebration sebagai apreasiasi atas hasil kerja mereka.

Selanjutnya bangun hubungan yang cair dan egaliter. Hubungan komunikasi vertikal dengan atasan yang lebih terbuka dan inklusif, serta kemudahan dalam menyampaikan pendapat kepada atasan juga menjdi syarat penting untuk membangun hubungan yang cair dan egaliter ini. Ketika fleksibilitas dalam komunikasi diterapkan kapan pun dan di mana pun, mereka akan lebih leluasa menyampaikan pendapat. Efeknya, mereka akan dapat dengan mudah memberikan kontribusi nyata bagi perusahaan. Bangun relationship yang personal, berikan kesempatan kepada mereka untuk berkembang seluas-luasnya melalui pelatihan dan pengembangan diri, baik melalui project, on job training, inhouse training, dan kelas-kelas workshop di luar perusahaan, serta libatkan mereka untuk bersama-sama memajukan perusahaan.

Melalui pengalaman bekerja yang positif tersebut, akan memunculkan sebuah makna yang spesial bagi mereka. Ketika mereka menemukan makna tersebut, mereka akan lebih puas, loyal, dan bahagia, dan mampu menjadi advokator bagi perusahaan.

4. Pakaian Kerja Formal

Urusan pakaian, milenial menjadi trensetter di dunia kerja. Mereka sangat percaya diri, selalu menginginkan autentitas dan ekspresi diri. Milenial menjadikan personal branding sebagai hal yang wajib bagi mereka. Oleh karenanya, Instagram dan YouTube menjadi platform yang sering kali mereka gunakan untuk mengaktualisasikan diri.

Begitu pula di tempat kerja. Kamu harus bisa menjadikan tempat kerja sebagai ruang ekspresi aktualisasi diri mereka. Ketika mereka bekerja di dalam kantor 8-9 jam sehari dan 5 hari dalam seminggu, maka tempat kerja yang instagrammable dan bergonta-ganti outfitter setiap hari menjadi kebutuhan, bukan? Oleh karena itulah ekspresi diri yang dituangkan dalam baju kerja di kantor kemudian mewabah dan diikuti oleh seluruh kantor tanah air, bahkan dunia.

Perusahaan yang masih menerapkan gaya berpakaian zaman old mulai mengubah aturan berpakaiannya agar tercipta suasana milenial. Artinya, generasi milenial membunuh atau menghilangkan kebiasaan menggunakan pakaian kerja yang selama ini sudah menjadi standar oleh generasi X dan baby boomers. Pakaian formal terdistrupsi dan akan segera punah, berganti dengan outfit kantor yang menekankan kenyamanan, kepraktisan, fleksibilitas untuk berbagai kondisi, tetapi tetap fun dan fashionable, dan tentu saja mencerminkan ekspresi dan identitas diri pemakainya.

Memang pada awalnya tren ini diperkenalkan dan meluas di kalangan perusahaan start-up, kemudian meluas ke perusahaan-perusahaan lain, baik skala besar maupun kecil. Inilah yang memunculkan sebuah tren bahwa perusahaan zaman now yang millennial friendly adalah mereka yang mengadopsi gaya kerja milenial.

Jika kamu pengguna kereta api, kamu bisa melihat hari Sabtu pakaian para pramugara dan pramugarinya juga menunjukkan gaya milenial menggunakan atasan polo shirt, dipadukan dengan bawahan krem, dan sepatu casual yang menjadikan gaya mereka sangat milenial. Kamu juga bisa melihat dengan jelas di indsutri perbankan. Jika dahulu seragam di industri perbankan terkenal sangat formal dan konservatif, berupa kemeja polos, dasi yang necis, celana bahan gelap, dan sepatu pantofel mengkilat, tetapi tidak dengan sekarang. Seringkali kita melihat pegawai bank yang menggunakan batik, kemeja bermotif, celana jeans atau denim, dengan sepatu sneakers.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Harvard University menemukan bahwa orang yang tampil nyeleneh di tempat kerja di tengah karyawan lain justru dipersepsikan positif oleh para koleganya. Karyawan tersebut dipersepsi memiliki status lebih tinggi, lebih percaya diri, lebih kompeten, dan lebih otoritatif dibandingkan mereka yang berpakaian formal.

Semoga bermanfaat.

Happy
Happy
100 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *