Diskusi yang Memunculkan Solusi

Advertisements

SPW – Diskusi awalnya tenang bisa berubah menjadi saling berteriak, apabila kita tidak berusaha mendengarkan orang lain. Kali ini saya akan membahas buku berjudul Crucial Conversations karya Joseph Grenny terkait cara komunikasi efektif saat berdiskusi.

Apakah kamu pernah berada dalam sebuah percakapan yang awalnya tenang, tiba-tiba berubah menjadi peperangan hanya karena satu kata atau kalimat yang diucapkan? Masing-masing pihak saling berteriak dan tidak ada yg mau mendengar.

Apakah kamu familiar dengan situasi ini? Kondisi ini bisa dialami oleh siapa saja. Entah antara kamu dengan pasangan, atasan, rekan kerja, teman atau bahkan dengan orangtua sekalipun. Jika kamu tidak bisa menanganinya dengan baik, bisa saja hubungan kamu menjadi rusak. Masing-masing pihak sakit hati dan mungkin saja tidak saling berbicara.

Tiga Hal Penting dari Buku Berjudul Crucial Conversations karya Joseph Grenny:

Pertama, Insting Tidak Selalu Tepat

Mayoritas orang terbiasa bertindak berdasarkan naluri alamiah. Naluri seringkali mengontrol respon yang kita berikan kepada orang lain. Kita sering mendengar kalau naluri muncul, maka kita harus mendengarkannya. Namun dalam situasi tertentu, mengikuti naluri justru memberikan efek buruk.

Misalnya, kamu suka makan donat dan kopi setiap pagi sebelum berangkat kerja. Di suatu hari, kamu menunggu sajian donat dan kopi yang dibuat oleh istrimu. Tanpa terasa sampai 30 menit lebih. Padahal kondisinya sedang tidak sibuk. Tidak berhenti sampai disitu, ternyata rasa donat dan kopi berbeda dari sebelumnya. Hal ini tentu saja membuatmu kesal. Lalu ada dorongan dari nalurimu untuk meluapkan amarah kepada istrimu.

Apakah ini respon yang tepat? Tentu saja tidakkan?!

Respon itu tidak baik dan tidak memperlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan. Akan tetapi bahkan jika kamu tidak peduli untuk memperlakukan orang lain dengan baik, respon itu juga berdampak buruk pada orang lain. Mungkin saja menjadi sakit hati dan kesal denganmu. Ketika kamu menyakiti perasaan orang lain. Tidak peduli apakah nalurimu benar atau salah, kamu tetap saja akan mengalami kerugian.

Ingat! Tujuan utamamu dalam situasi ini adalah agar bisa mendapatkan donat dan kopi dengan cepat dan enakkan?!

Nah, apakah dengan memarahi istri atau orang lain akan membantumu untuk mencapai respon yang lebih baik? Tentunya berbicara dengan tenang dan meminta untuk membuatkan pesananmu lagi adalah perilaku lebih produktif daripada mengikuti naluri bukan?!

Dilemanya adalah antara mengikuti naluri atau memberikan respon yang lebih produktif merupakan pilihan yang kita ambil setiap harinya. Percakapan yang awalnya tenang bisa berubah menjadi saling berteriak hanya karena salah satu pihak mengikuti nalurinya.

Anehnya, semakin penting sebuah diskusi bagi kita, maka semakin sulit kita menanganinya. Apa contoh diskusi yang penting? Misalnya saat kamu ingin meminta promosi, melamar seorang gadis atau sebagainya. Namun ketika orang tersebut berbeda pandangan, kita mungkin tidak secara langsung menyerang fisik seseorang. Akan tetapi kita menyerang idenya, perasaannya, dan sebagainya.

Ingat! Ketika kita gagal mencari solusi dalam sebuah diskusi yang penting, maka hal ini bisa berdampak pada setiap aspek dalam hidup kita. Entah itu karir, hubungan kita dengan keluarga, dan sebagainya.

Kedua, Komunikasi Efektif

Ketika kita berada dalam sebuah percakapan dengan emosi yang tinggi, mayoritas orang biasanya memilih antara dua respon ini, yakni diam (silent) atau berbalik menyerang (aggressive). Dua pilihan ini tentunya tidak memberikan solusi terbaik, apalagi jika kita berada dalam sebuah diskusi yang penting. Padahal yang dibutuhkan adalah solusi, bukan dua orang yang saling berteriak atau dua orang yang tidak saling peduli satu sama lain.

Kita pasti pernah berada dalam situasi tersebut, ketika kita berada dalam pembicaraan serius dengan seseorang, lama-kelamaan situasi semakin memanas dan salah satu pihak mulai berkata kasar dalam kondisi tersebut. Kita mungkin awalnya diam saja, akan tetapi lama-kelamaan menjadi kesal. Lalu tanpa sadar kita berbalik menyerang atau emosi kita malah menjadinya langsung terpancing saat pihak lain berkata kasar. Perlu diingat, kalau yang kita inginkan adalah solusi, bukan pertengkaran semata.

Pilihan ketiga adalah berbicara dari hati-hati. Terdengar mudah diucapkan, tetapi kalau dijalankan tentunya tidak mudah.

Jika saya diminta untuk menebang pohon dalam enam jam, maka saya akan menghabiskan empat jam pertama untuk mengasah kapaknya.

Abraham Lincoln – Presiden Amerika Serikat

Kutipan tersebut menjelaskan betapa pentingnya sebuah persiapan. Hal yang sama juga perlu kita lakukan saat terlibat dalam sebuah diskusi yang serius, yakni kita harus mempersiapkan dengan baik.

Advertisements

Grenny memberikan beberapa tips yang menarik;

1. Ketahui apa yang akan kamu hadapi. Diskusi yang serius biasanya tidak terjadi secara tiba-tiba. Kadang waktunya ditentukan oleh salah satu pihak. Ketika kamu berada dalam sebuah diskusi yang serius, coba tanyakan hal ini pada dirimu, apakah masalah ini baru pertama kali terjadi atau sudah terjadi berulang kali tapi tidak pernah ada solusi. Sikap ini akan menentukan respon yang berbeda.

Misalnya kamu ingin menegur karyawan yang telat tanpa penjelasan. Tentu saja akan berbeda apabila karyawan tersebut baru telat sekali, dibandingkan dengan karyawan yang telah beberapa kali dalam sebulan.

2. Tujuan diskusi. Kenapa kamu berdiskusi? Apakah kamu tahu tujuan dari diskusi tersebut? Apa yang ingin kamu raih? Apa hasil yang kamu harapkan?

Kamu perlu tahu apa tujuanmu dari diskusi tersebut. Hal ini akan membantumu tetap fokus dan tidak mudah terjebak dalam situasi yang panas.

3. Pilih lokasi dan waktu yang tepat. Perlu kamu sadari kalau sebuah diskusi yang serius tentu saja tidak mudah bagi semua pihak. Mungkin saja hal ini bisa menyakiti perasaan mereka dan sebagainya. Namun lokasi dan waktu yang sesuai bisa membantu kalian dalam berdiskusi. Misalnya kamu ingin meminta bantuan dari atasan, tentunya kamu harus coba cari tahu dimana kalian bisa berdiskusi yang produktif. Jika atasanmu meeting seharian, mungkin saja hari itu bukan hari yang tepat karena atasanmu sudah tidak bisa berpikir jernih disebabkan keletihan seharian bekerja. Coba lihat suasana dan waktu yang tepat, mungkin ketika atasanmu sedang luang atau buat dia tersenyum dahulu.

Ketiga, Memahami Dulu dan Menyadari Kemudian

Langkah pertama yang paling penting adalah mendengarkan secara tulus. Buat mereka merasa aman dan hargai pendapat yang mereka katakan. Ada sebuah latihan yang menarik apabila kamu ingin mendengar orang lain secara tulus. Grenny menyebutnya AMPP (Ask, Mirror, Paraphrase, Prime).

1. Ask artinya kamu bertanya dan menunjukkan gestur kalau kamu ingin mendengarkan apa yang lawan bicara ingin katakan. Kamu mungkin bisa melakukan seperti ini. ‘Saya ingin dengar apa pendapatmu soal ini’.

2. Mirror adalah kamu berusaha mengkonfirmasi apa yang lawan bicara rasakan. Di bagian ini yang sangat krusial adalah nada bicaramu. Jika nada bicara salah, maka kamu malah dianggap tidak tulus dan situasi bisa langsung memanas. Kamu bisa berkata seperti ini. ‘Saya merasa kalau kamu sepertinya kesal’.

3. Paraphrase artinya mengucapkan kembali apa yang orang lain katakan. Perilaku ini menunjukkan kalau kamu mendengarkan dan berusaha untuk memahami apa yang mereka sampaikan. Contohnya, ‘kalau saya tidak salah, menurutmu itu begini-begini ya?’

4. Prime adalah teknik ini kamu gunakan saat lawan bicara sepertinya tidak berniat untuk terbuka atas apa yang mereka rasakan. Mungkin kamu bisa memberikan sedikit dorongan agar mereka bicara. Misalnya kamu sampaikan begini, ‘saya rasa, kamu mungkin merasa kalau saya tidak adil’.

Ingat tujuan utamanya adalah berusaha memahami dan menyadari orang lain dahulu.

Kesimpulan

1. Jangan selalu mengikuti naluri. Kadang apa yang kita pikirkan benar, malah bisa jadi salah. Memarahi orang lain karena mereka melakukan kesalahan, mungkin saja secara naluri itu benar. Akan tetapi apakah bisa membuat orang lain berubah dan tidak sakit hati?

2. Ingat apa tujuanmu. Ketika sebuah percakapan yang awalnya tenang dan damai. Tiba-tiba jadi memanas. Coba tarik nafas dalam-dalam. Apa tujuan diskusi tersebut? Apa hal besar yang ingin kalian capai bersama? Tujuan akan membantumu memberikan respon yang lebih baik daripada sekedar berteriak untuk melukai lawan bicara.

3. Mendengarkan secara tulus. Jika kamu ingin dimengerti, maka kamu harus mengerti orang lain dulu. Kamu tidak bisa berharap untuk dimengerti, apabila kamu tidak mau memulainya terlebih dahulu. Kadang sebuah pertengkaran bisa dihindari ketika masing-masing pihak bersedia mendengar, memahami, dan menyadari apa yang orang lain katakan.


Semoga bermanfaat. Sebagai bentuk dukunganmu terhadap blog pribadi ini, caranya mudah sekali. Hanya tinggalkan komentarmu dan sebarkan tulisan ini kepada siapapun. Terima kasih banyak.

Advertisements
Lulusan Psikologi. Instruktur yang berfokus pada materi ajar terkait Improvement & People Development. Penulis resmi di Personal Blog Singgih Pandu Wicaksono. Hobi membaca, menulis, dan berolahraga.

Related Posts

Rencana Singkat Disisa Hidupmu

Advertisements SPW – Kadang dalam hidup kita tidak selalu mendapatkan pilihan yang bagus, yang jauh lebih penting adalah melakukan hal terbaik dari pilihan apapun yang didapatkan. Kali…

Berpikir Berbeda – Kreatif dan Inovatif

Advertisements SPW – Menjadi original tidak perlu menjadi yang pertama, tetapi menjadi yang berbeda dan lebih baik. Kali ini saya akan membahas buku yang berjudul Originals karya…

Cara Menghentikan Kebohongan atau Kecurangan

Advertisements SPW – Mayoritas orang akan curang apabila situasi dan kondisinya mendukung. Kali ini saya akan bahas buku berjudul The Honest Truth About Dishonesty karya Dan Ariely…

Menjadi Negosiator Ulung dengan Cara Membujuk Orang Lain Melalui Teknik Mendengarkan

Advertisements SPW – Ketika seseorang sedang cerita mungkin dia tidak butuh solusi, akan tetapi hanya ingin didengar keluh kesahnya. Kali ini saya akan membahas buku berjudul Just…

Transformasi Bisnis yang Sukses

Advertisements SPW – Perusahaan yang mampu bertransformasi menjadi perusahaan hebat diibaratkan seekor landak, sedangkan perusahaan yang gagal bertransformasi diibaratkan seekor rubah. Kali ini saya akan membahas buku…

Melatih Win-win Solution

Advertisements SPW – Hidup akan berubah apabila mindset kita berubah. Ketika kita fokus pada orang lain maka kita akan menciptakan dunia yang lebih baik. Kali ini saya…

Leave a Reply

Your email address will not be published.