Jadilah Orang yang Tahu Kapan Berhenti atau Berlanjut

Advertisements

SPW – Orang sukses tidak pernah takut untuk berhenti ketika tidak ada kemajuan. Di setiap proyek apapun, entah itu hobi, pekerjaan, atau membangun perusahaan baru, awalnya pasti menyenangkan, namun lama kelamaan kondisinya menjadi semakin sulit dan tidak menyenangkan lagi. Mungkin saja kamu sedang berada dalam kondisi dip, sebuah keadaan ketika kamu mengalami kemunduran sementara, namun akan lebih baik jika kamu terus berusaha. Tapi tidak menutup kemungkinan, apa yang kamu alami adalah cul de sac atau disebut sebagai jalan buntu.

Kali ini saya akan membahas buku berjudul The Dip karya Seth Godin, terkait kapan harus berhenti atau terus berusaha mengejar yang diinginkan. Orang sukses mampu mengetahui perbedaan antara dip dengan cul de sac. Mereka tahu kapan harus berhenti jika bertemu jalan buntu, atau berusaha lebih keras lagi apabila berada di fase dip. Mereka sadar apabila mereka berhasil melewati fase dip, maka mereka akan mencapai tujuan yang diinginkan.

Tiga Hal Penting dari Buku Berjudul The Dip Karya Seth Godin

Pertama, Menjadi yang Terbaik

Mana yang kamu pilih? Jadi yang terhebat atau biasa saja? Mungkin banyak orang diajarkan jangan bermimpi terlalu besar, biasa saja, pilih mimpi yang realistis. Namun, apakah kamu tahu kalau perbedaan antara orang hebat dengan orang biasa? Bagaikan bumi dengan langit!

Ada sebuah contoh dari rasa es krim. Di Amerika Serikat, rasa es krim paling populer adalah vanila dengan total pasar mencapai 30%. Sedangkan rasa populer kedua adalah coklat, tapi hanya 10% dari total penjualan es krim di Amerika Serikat. Jurang antara es krim rasa vanila dengan coklat bukan hanya terjadi di industri es krim, tapi di banyak hal dalam hidup.

Ada contoh lain yang menarik. Misalnya, kamu bepergian ke sebuah kota di negara asing dan mau makan siang. Apa yang kamu lakukan? Biasanya, kamu akan mencari restoran yang harus dikunjungi di kota tersebut. Hal ini lalu membuat restoran yang direkomendasikan menjadi ramai dikunjungi. Hasilnya, pemilik resto bisa menaikkan harga jualnya karena restonya paling populer daripada resto yang lain. Ini adalah keuntungan apabila kamu menjadi nomor satu.

Kenapa hal ini terjadi? Kenapa orang berusaha untuk mencari yang terbaik daripada memilih secara acak? Alasan sederhananya, karena setiap orang tidak punya banyak waktu dan tidak mau mengambil resiko.

Kembali ke contoh tadi saat kamu liburan ke kota di negara asing, tentunya kamu tidak ingin mencoba restoran yang ternyata tidak enak. Waktu yang terbatas membuat kamu harus membuat pilihan dengan cerdas.

Namun menariknya, kata terbaik bagi setiap orang itu berbeda. Kata terbaik bagi setiap orang berarti yang terbaik bagi mereka saat ini, tergantung pada apa yang mereka tahu dan tentunya tergantung dari kemampuan mereka.

Advertisements

Misalnya kamu mencari restoran yang harus dikunjungi, tentunya akan banyak pilihan yang muncul. Tapi, pilihan yang kamu ambil pasti berdasarkan banyak hal, mulai dari jenis makanan apa yang kamu sukai, jarak restoran dari tempat kamu sekarang, harga makanan di restoran tersebut, dan sebagainya.

Kedua, Tiga Kurva

Ketika kamu menjalankan sesuatu entah itu hobi, bisnis, atau apapun, pasti kamu akan menemui tiga kurva yang berbeda.

  1. Cul de sac atau yang berarti jalan buntu. Kurva ini menggambarkan apapun yang kamu lakukan, tidak ada perubahan yang berarti, tidak menjadi lebih baik, tidak juga menjadi lebih buruk. Penting untuk mengetahui adanya cul de sac dalam hidup.
    Coba lihat pekerjaan kamu di perusahaan sekarang, apakah ada masa depannya? Atau terlihat seperti jalan buntu? Jika iya, maka kamu perlu segera keluar dan mencari peluang di tempat lain.
  2. The Cliff. Kurva ini menggambarkan awalnya sesuatu yang kamu lakukan punya potensi yang besar, namun tiba-tiba saja kurva-nya jatuh secara signifikan dan menderita. The Cliff menggambarkan situasi apabila kamu tidak berhenti, maka kamu akan jatuh dan hancur.
    Kurva the cliff bisa berupa banyak hal, misalnya mencuri uang di kantor, menipu konsumen, dan sebagainya. Awalnya kelihatan baik-baik saja dan hasilnya baik. Namun ketika ketahuan, maka habislah semuanya. Dua kurva di awal yaitu cul de sac dan cliff akan mengarah pada kegagalan. Jika kamu menjalani salah satu dari kedua kurva tersebut, berhenti sekarang juga.
  3. The Dip. Di kegiatan apapun, kamu pasti akan mengalami the dip atau periode yang penuh tantangan. Misalnya saat kamu memulai bisnis baru. Tentu saja di tahap awal semua terasa menyenangkan, kamu juga bersemangat atas inovasi dan ide segar yang baru. Namun seiring berjalannya waktu, tantangannya semakin banyak. Nah di sini adalah periode dip.
    Apabila kamu berhasil melewatinya, maka bisnis yang kamu jalani akan naik ke level berikutnya. Walaupun terlihat sebagai periode yang sulit, the dip itu sebenarnya adalah jalan singkat untuk menuju kesuksesan. Namun tidak semua orang punya kesabaran dan energi untuk melewati the dip. Akhirnya banyak orang berhenti sebelum mereka berhasil melewati periode tersebut. Inilah yang membuat orang yang berhasil melewati the dip, menjadi orang yang sukses dan dihargai banyak orang.

Ketiga, Berhenti Tidak Sama dengan Gagal

Apakah orang sukses tidak pernah berhenti? Ternyata tidak! Orang sukses tahu kapan berhenti, kapan harus bekerja keras mengejar tujuan yang mereka inginkan. Namun, kebanyakan orang malah menjadi quitter.

Contohnya, kamu mencoba bisnis baru yaitu jualan kue. Namun, ketika baru mulai dan jualannya sedikit, kamu memilih berhenti. Lalu, kamu mencoba bisnis lain dan mengulang hal yang sama, baru mulai sebentar, ketemu kesulitan langsung berhenti. Jika kamu melakukan hal ini terus-menerus, kamu tidak akan kemana-mana. Ibaratnya kamu bisa melakukan banyak hal, tapi tidak ada hasil yang berarti.

Kita bisa belajar dari burung pelatuk. Burung pelatuk mencari makan dengan mematuk kayu dari sebuah pohon. Menariknya, burung pelatuk tidak mematuk banyak pohon, tapi hanya satu pohon dipatuk 20 ribu kali. Ketika kamu berada dalam periode dip, berusaha terus hingga kamu menjadi pemenang.

Orang sukses punya caranya sendiri dalam berhenti melakukan sesuatu. Mereka bukanlah orang yang gagal apabila mereka berhenti. Mereka tahu kapan harus berhenti. Mereka berhenti ketika berada dalam kurva cul de sac. Mereka berhenti ketika berada dalam kurva the cliff. Namun, bagaimana caranya kita mengetahui kalau keputusan berhenti sudah tepat?

Ada dua pertanyaan yang harus ditanyakan.

  1. Apakah saya sedang panik? Jangan pernah berhenti karena kamu panik. Orang sukses berhenti karena mereka sudah memutuskan untuk berhenti. Jangan menyerah karena kondisinya semakin sulit, tapi berhenti ketika kamu sudah memikirkannya dengan matang.
  2. Apakah ada kemajuan yang saya buat? Untuk sukses, kamu harus selalu membuat kemajuan, tidak peduli seberapa kecilnya. Jangan berhenti ketika kondisi menjadi semakin sulit. Tapi, berhentilah ketika kamu tidak menghasilkan kemajuan apapun.

Kesimpulan

  1. Cul de sac atau yang berarti jalan buntu. Kurva ini menggambarkan apapun yang kamu lakukan, tidak ada perubahan yang berarti, tidak menjadi lebih baik, tidak juga menjadi lebih buruk.
  2. The Cliff menggambarkan awalnya sesuatu yang kamu lakukan punya potensi yang besar, namun tiba-tiba saja kurva-nya jatuh secara signifikan dan kamu akan menderita.
  3. The Dip atau periode yang penuh tantangan. Misalnya saat kamu memulai bisnis baru. Tentu saja di tahap awal semua terasa menyenangkan, kamu juga bersemangat atas inovasi dan ide segar yang baru. Namun seiring berjalannya waktu, tantangannya semakin banyak.

Semoga bermanfaat. Sebagai bentuk dukunganmu terhadap blog pribadi ini, caranya mudah sekali. Hanya tinggalkan komentarmu dan sebarkan tulisan ini kepada siapapun. Terima kasih banyak.

Advertisements
Lulusan Psikologi. Instruktur materi ajar terkait Improvement & People Development. Penulis resmi Personal Blog Singgih Pandu Wicaksono. Hobi membaca, menulis, dan berolahraga. 14 tahun berpengalaman di bidang Human Capital dan saat ini berposisi sebagai Head of Human Capital di Perusahaan Alat Berat Nasional yang bergerak di Mining (Pertambangan) dan Konstruksi (Construction).

Related Posts

Cara Menemukan Karyawan yang Tepat untuk Perusahaan

Advertisements SPW – Apakah kamu pernah mendengar kata talent di perusahaan? Bukan sekedar istilah yang meluncur begitu saja. Talent sebenarnya adalah elemen rahasia di balik panggung sukses…

Cara Membangun Kepercayaan

Advertisements SPW – Di hubungan yang penuh rasa percaya, kamu bisa bicara hal yang salah, tetapi orang lain tetap memahami maksud dari ucapanmu. Namun ketika kepercayaan rendah,…

Menggali Kreativitas Diri

Advertisements SPW – Tidak pernah terlambat untuk jadi orang yang kreatif. Kamu perlu belajar untuk berdamai dengan rasa takut, ekspektasi orang lain, dan berikan kebebasan pada dirimu…

Menjadi Pemula, Menciptakan Keberhasilan

Advertisements SPW – Di pikiran pemula ada banyak kemungkinan, sedangkan di pikiran ahli hanya ada sedikit. Kali ini saya akan membahas buku berjudul Zen Mind, Beginner’s Mind…

Membentuk Cara Pikir Orang Sukses

Advertisements SPW – Berpikir itu hal yang sulit, sehingga tidak banyak yang melakukannya. Kali ini saya membahas buku berjudul How Successfull People Think karya John C Maxwell…

Sikap Pemimpin Hebat

Advertisements SPW – Dengan bekerja bersama, maka kita akan mampu menghasilkan banyak hal. Melalui empati, pemimpin mampu memprioritaskan kepentingan timnya di atas kepentingan pribadi. Hasilnya, loyalitas dan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *