Perubahan Dunia Kerja Di Era Digital

Advertisements

SPW – Kita bisa memahami bahwa setiap era membawa manusia pada situasi pekerjaan yang berbeda, baik dilihat dari sudut pandang tujuan kerja, karakteristik kebutuhan kerja, maupun dilihat dari pengembangan sumber daya manusianya.

Mari kita coba bandingkan tipe pekerjaan di empat era yang berbeda.

Pada era agraria, tujuan dari seseorang bekerja adalah untuk mempertahankan hidup. Oleh karenanya, pada era ini pekerja yang memiliki kekuatan fisik menjadi modal utama. Tidak heran, mengembangkan stamina pegawai menjadi modal utamanya.

Bergeser ke era awal industri, tepatnya industri 1.0 dan 2.0. Tujuan dari bekerja adalah untuk kepuasan. Pada era ini, efisiensi tenaga kerja adalah faktor utama. Oleh karena itu, pekerja yang kreatif dan terampil menjadi modal utamanya.

Ketika masuk ke era informasi, dikenal juga dengan era indsutri 3.0 dimana ditemukannya komputer dan internet. Tujuan pekerjaan bergeser menjadi keterlibatan. Karakteristik pegawai yang dibutuhkan secara umum adalah mereka yang memiliki pengetahuan dan keingintahuan yang besar terhadap suatu hal. Oleh karena itu, fokus pengembangan sumber daya manusia berada di area peningkatan kreativitas dan inovasi.

Saat ini kita berada di era revolusi industri 4.0, era di mana tujuan bekerja lebih pada nilai pemenuhan kebutuhan akan kebermaknaan dan penghargaan. Karakteristik pegawai yang dibutuhkan adalah kesadaran akan potensi yang dimiliki (self awarenes), termasuk bakat dan kekuatan diri. Maka dari itu, yang dikembangkan dari sumber daya manusia pada era ini adalah tujuan hidupnya (life purpose) atau alasan keberadaannya.

Sebuah organisasi yang ingin meraih kesuksesan di masa kini dan masa mendatang harus memiliki empat kapasitas organisasi, yaitu digital, terbuka (Transparent), lentur (Flexible), cepat (Speed). Mari kita bahas satu per satu kapasitas organisasi tersebut.

1. Digital

Karakteristik yang paling jelas dari era saat ini adalah penggunaan media sosial. Mereka para milenial dan generasi selanjutnya, dapat masuk ke dalam dunia kerja usai menghabiskan waktu bertahun-tahun dengan media sarana digital di tangan mereka. Mereka menggunakan media sosial tersebut untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan rekan dan teman mereka. Oleh karena itu, akan sangat mengherankan bagi milenial jika ada senior atau mungkin supervisornya mengirimkan email dan meminta jawaban yang cepat, padahal di tangan mereka ada media sosial semacam WhatApps dan Telegram yang memudahkan mereka berinteraksi.

Para milenial bukan hanya fasih menggunakan alat-alat digital, tetapi juga menikmati betapa nyamannya mereka dalam menggunakan dan memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari. Alat-alat digital ini memudahkan mereka dalam beraktivitas dan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan mereka.

2. Terbuka (Transparent)

Salah satu prinsip utama dari manajemen selama satu abad terakhir adalah pengendalian informasi. Ada informasi-informasi rahasia yang tidak boleh bocor dan diketahui oleh banyak pihak termasuk karyawan. Hal ini sesuai dengan prinsip di mana terlalu banyak informasi di tangan orang-orang yang salah, maka akan sangat berbahaya bagi perusahaan.

Advertisements

Ada sebuah asumsi dalam manajemen yang menyatakan bahwa melepas terlalu banyak informasi akan mengakibatkan kekacauan, kesalahan, kurang efisien, dan lain sebagainya. Semakin banyak informasi yang beredar di luar sana, semakin banyak kesalahan yang akan muncul. Solusinya adalah dengan mengendalikan informasi agar hanya beredar di puncak sistem, membiarkan mereka yang memutuskan kapan informasi itu akan dibagikan, bagaimana caranya, dan kepada siapa.

Sayangnya logika tersebut tidaklah relevan dengan realitas hari ini. Menyembunyikan informasi pada akhirnya justru akan memunculkan lebih banyak masalah daripada menyelesaikannya. Generasi milenial sudah terbiasa dengan keterbukaan, informasi bisa dengan mudah diakses melalui perangkat digitalnya. Sebalikanya, mereka juga dengan mudah menyebarluaskan informasi yang ada pada dirinya.

Esensi terbuka berarti menjadikan lebih banyak informasi tersedia kepada lebih banyak orang dalam tim, serta mengizinkan mereka mengambil keputusan dan strategi yang lebih baik berdasarkan informasi yang tersedia. Oleh karena itu, informasi dibagikan dan tidak dirahasiakan.

Organisasi yang terbuka memulai dengan asumsi bahwa informasi harus selalu tersedia bagi siapapun di dalam tim. Setiap orang dapat menggunakan informasi tersebut untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan mereka dan tidak bergantung kepada segelintir orang yang memiliki akses terhadap informasi. Dengan demikian, keputusan-keputusan dalam organisasi menjadi lebih efektif.

3. Lentur (Flexible)

Lentur berbicara mengenai perluasan dan pendistribusian wewenang serta kekuasaan dengan cara yang dinamis dan fleksibel. Model manajemen lama melihat kekuasaan dari perspektif kendali. Kekuasaan hanya diberikan kepada bagian-bagian sistem yang dipercaya untuk menggunakannya. Jika membagikan kekuasaan dengan orang lain berarti mengurangi kendali tersebut. Hasilnya karena kekuasaan bersifat terpusat maka organisasi tersebut menjadi tidak lentur dan cenderung kaku.

Lentur dalam hal ini juga meliputi tanggungjawab berpikir dan mengambil keputusan tidak didominasi oleh manajemen puncak, tetapi terdistribusi hingga ke level operator. Artinya, setiap orang memiliki tanggungjawab yang sama untuk berpikir dan mengambil keputusan.

4. Cepat (Speed)

Internet memudahkan setiap orang menyelesaikan masalah, dengan catatan akses internet cepat. Handphone yang kita gunakan saat ini lebih cepat kinerjanya. Para milenial akan sangat up to date dengan perilisan Iphone baru. Meskipun tidak selalu membeli dan memilikinya, setidaknya mereka mengetahui apa fitur terbarunya dan apa keunggulannya dibandingkan dengan smartphone lainnya. Salah satu keunggulan dari rilisnya produk teknologi adalah kecepatan. Bagi mereka kecepatan adalah sesuatu yang normal dan keharusan.

Ketika milenial berada di tempat kerja, standar ini juga terlihat. Para milenial kebingungan dengan ketidakmampuan organisasi dalam menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan realitas yang baru dan cepat atau kemampuan mereka dalam berinovasi.


Semoga bermanfaat. Bagi kamu yang telah selesai membaca artikel ini, sebagai bentuk dukungan agar artikelnya terus-menerus mengalami pembaharuan, tolong meninggalkan komentarnya. Terima kasih.

Advertisements
Lulusan Psikologi. Instruktur yang berfokus pada materi ajar terkait Improvement & People Development. Penulis resmi di Personal Blog Singgih Pandu Wicaksono. Hobi membaca, menulis, dan berolahraga.

Related Posts

Mengenali Performance Development

Advertisements SPW – Di dunia Sumber Daya Manusia (SDM), kita mengenal istilah performance management di mana para ahli mendefinisikannya dengan cara yang berbeda-beda. Amstrong mengemukakan di The Process of Performance…

Cara Milenial Bekerja

Advertisements SPW – Melengkapi apa yang sudah saya paparkan dari tulisan Yuswohady, Jacob Morgan seorang penulis best seller Keynote and TED Speaker, pernah membuat sebuah prediksi tentang seperti…

Dampak Perubahan Era Digital

Advertisements SPW – Perubahan era berdampak pada cara kerja dan bagaimana para pekerja menyelesaikan pekerjaannya. Ada hal menarik dari buku berjudul “Millennials Kill Everything” karya Yuswohady. Beliau menjelaskan dengan…

Mengenal Generasi Milenial

Advertisements SPW – Milenial tidak berhubungan dengan usia tertentu, namun milenial berkaitan dengan zaman di mana sebuah generasi lahir dan bertumbuh. Ada beberapa referensi terkait dengan siapakah…

Leadership Di Era Digital

Advertisements SPW – Seorang pemimpin tangguh memfokuskan kegiatan dan pekerjaan kepada aktivitas yang sangat penting dan membawa dampak besar bagi organisasinya. Ada lima fokus leadership, diantaranya: 1. Set Big…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *